![]() |
| Ilustrasi (Foto: Pexels) |
Syafnis.Com, Rasa lapar secara alami adalah sinyal biologis bahwa tubuh membutuhkan energi. Namun, tidak semua rasa lapar berasal dari kebutuhan fisiologis tersebut. Ada kondisi yang dikenal sebagai lapar palsu, yaitu sensasi ingin makan yang muncul bukan karena tubuh kekurangan energi, tetapi dipicu oleh faktor lain.
Lapar palsu sering berkaitan dengan fluktuasi hormon, terutama hormon ghrelin (pemicu lapar) dan leptin (pengatur rasa kenyang). Kurang tidur, stres, atau pola makan tinggi gula dapat mengganggu keseimbangan hormon ini, sehingga otak menerima sinyal lapar meskipun cadangan energi masih cukup.
Tanda-Tanda Lapar Palsu yang Perlu Dikenali
Salah satu ciri utama lapar palsu adalah munculnya rasa ingin makan secara tiba-tiba dan spesifik, misalnya hanya ingin makanan manis atau camilan tertentu. Berbeda dengan lapar fisik yang bersifat lebih netral dan bisa menerima berbagai jenis makanan.
Lapar palsu juga sering muncul tidak lama setelah makan, terutama jika makanan sebelumnya tinggi gula atau rendah serat dan protein. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan naik-turunnya kadar gula darah yang cepat, sehingga otak kembali mengirim sinyal lapar meski tubuh belum benar-benar membutuhkan asupan tambahan.
Tanda lain adalah lapar yang berkaitan dengan emosi, seperti stres, bosan, cemas, atau lelah. Dalam situasi ini, makan sering dijadikan alat pengalihan atau kenyamanan, bukan untuk memenuhi kebutuhan energi. Setelah makan, rasa kenyang fisik mungkin tercapai, tetapi kepuasan emosional tidak bertahan lama.
Selain itu, lapar palsu sering tidak disertai tanda fisik lain seperti perut berbunyi, lemas, atau penurunan konsentrasi. Jika rasa lapar hilang setelah minum air, istirahat sejenak, atau mengalihkan perhatian, kemungkinan besar itu bukan lapar fisiologis.
Dampak Jika Lapar Palsu Selalu Dituruti
Menuruti lapar palsu secara terus-menerus dapat menyebabkan asupan kalori berlebih tanpa disadari. Karena biasanya yang dicari adalah makanan cepat saji atau tinggi gula, risiko ketidakseimbangan nutrisi pun meningkat.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi regulasi gula darah dan sensitivitas insulin, terutama jika sering mengandalkan camilan manis sebagai respons terhadap lapar palsu. Tubuh menjadi terbiasa dengan lonjakan energi cepat, lalu diikuti penurunan drastis yang memicu rasa lapar kembali.
Dari sisi psikologis, pola ini juga bisa melemahkan kepekaan terhadap sinyal tubuh yang asli. Seseorang menjadi sulit membedakan kapan benar-benar lapar dan kapan hanya terdorong oleh emosi atau kebiasaan, sehingga hubungan dengan makanan menjadi tidak seimbang.
Selain itu, makan tanpa kebutuhan fisiologis sering berujung pada rasa bersalah atau tidak nyaman setelahnya, terutama jika dilakukan berulang. Hal ini dapat menciptakan siklus makan emosional yang tidak sehat dan sulit dihentikan tanpa kesadaran yang tepat.
Cara Menyikapi Lapar Palsu Secara Sehat
Langkah pertama menghadapi lapar palsu adalah memberi jeda sebelum makan. Saat rasa lapar muncul, coba tanya pada diri sendiri: “Kapan terakhir kali saya makan? Apakah saya mau makan apa saja, atau hanya ingin makanan tertentu?” Pertanyaan sederhana ini membantu mengaktifkan kesadaran, bukan reaksi otomatis.
Memastikan asupan cairan yang cukup juga penting, karena dehidrasi ringan sering disalahartikan sebagai rasa lapar. Minum air dan menunggu beberapa menit dapat membantu membedakan apakah tubuh benar-benar membutuhkan makanan atau hanya cairan.
Pola makan seimbang dengan cukup protein, serat, dan lemak sehat membantu menjaga rasa kenyang lebih stabil. Makanan utuh yang padat nutrisi membuat sinyal lapar lebih jujur dan tidak mudah dipicu oleh fluktuasi gula darah.
Yang tidak kalah penting, kelola faktor pemicunya: tidur cukup, kelola stres, dan sadari kebiasaan makan berbasis emosi. Tujuannya bukan menahan lapar, melainkan merespons sinyal tubuh secara tepat, sehingga makan benar-benar menjadi sarana pemeliharaan kesehatan, bukan pelarian. Semoga bermanfaat!

