![]() |
| Ilustrasi (Foto: pexels) |
By: Syafnis
Reuni kali ini cukup mengejutkan bagi Uci. Karena ia harus bertemu dengan sosok masa lalu yang simbolik dengan luka. Pun begitu pula dengan yang dirasakan sang pria, Leo namanya. Cukup lama mereka tak bersua melewati sekian purnama. Namun mereka tak bisa membohongi hati masing-masing, bahwa ada yang belum diselesaikan dari hubungan yang telah usai.Ketika acara itu selesai, mereka pun berbicara singkat. Leo yang 'kekeh' ingin bicara meski sebelumnya Uci menolak.
Bingung, entah kata apa yang harus dimulai. Leo pun memulainya.
"Aku minta maaf, meski maafku ini ucapan yang tetap tak termaafkan atas perbuatanku yang brengsek, meninggalkanmu tanpa memberi alasan." Sebetulnya Leo ingin sekali melanjutkannya dengan kalimat bahwa sebenarnya dia masih mencintai wanita itu.
Ia terlalu tahu diri untuk mengungkap kejujuran perasaannya yang masih belum terkubur. Belum lagi, ia mendengar kabar burung tentang wanita itu yang sudah memiliki teman dekat.
Kejadian tujuh tahun lalu, membuat keduanya saling bernostalgia. Meski mereka hanya diam. Tapi Uci, bahasa wanitanya pun mulai menetes.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Kita sudah dengan kehidupan kita masing-masing. Aku sudah memaafkanmu."
Mendengar jawaban itu, perasaan bersalah semakin muncul di hati Leo. Ia pun lalu bercerita panjang, menceritakan alasan kenapa ia pergi dengan begitu rinci.
Ini adalah momen yang Uci tunggu setelah tujuh tahun lamanya ditinggal pergi. Namun kenapa laki-laki itu memberikan alasannya sekarang, di saat kesempatan sudah tertutup rapat.
Masih terngiang di ingatan Uci, saat ia benar-benar serius dengan hubungannya. Dulu, Leo ia kenalkan tidak hanya kepada orang tuanya, tapi juga keluarga besarnya. Bibinya, pamannya, semua itu menunjukan betapa Uci mantap dengan hubungan itu dan tidak menduga bahwa sang lelaki akan mempermainkan dirinya.
Padahal hubungan sudah seserius itu, lantas di tengah jalan ia mendapati sang lelaki memutuskan hubungan dan pergi begitu saja.
Tidak ada kesalahan dalam hubungan mereka. Tidak ada pengkhianatan, pertengkaran, semua berjalan baik-baik saja. Bahkan Uci sudah mengenal dekat ibunya Leo. Ini seperti mimpi buruk, tapi ini tetaplah bukan mimpi.
Meski tak berdarah, luka tetaplah luka. Mungkin, jika seseorang pergi karena kesalahan, orang bisa memperbaiki kesalahannya. Tapi lucunya, di tengah tidak ada kesalahan pun, tidak ada peristiwa, lalu hubungan itu diputus begitu saja.
Apakah aku pernah melukaimu tanpa sadar? Semua pertanyaan Uci yang beruntun tak sedikit
pun digubris. Hingga sang lelaki tak lagi bisa ditemui jejaknya. Mereka putus komunikasi hingga bertahun-tahun lamanya.
Lelaki yang selama ini Uci berani perkenalkan kepada keluarganya namun mengkhianatinya itu pun kini sedang berdiri di sampingnya. Uci menatap langit-langit, menahan air matanya menetes lagi.
"Kita seusia, dan aku anak sulung, dengan adik-adiku yang banyak."
Leo pun melanjutkan,
"Sebagai pengganti ayah, maka ibu dan adik-adikku adalah tanggung jawabku. Dulu aku berpikir, jika aku mempertahankan hubungan kita, maka aku akan melukaimu, aku akan membuatmu menunggu begitu lama. Karena aku belum siap menikah di waktu dekat, aku belum punya apapun, aku sedang dalam merintis karirku yang baru saja dimulai. Maka aku pun berpikir untuk mengakhiri harapanmu padaku."
"Aku memutuskan untuk tidak menjelaskan apa-apa. Karena aku tahu kau sangat mencintaiku, dan aku yakin kau mau menunggu. Tapi,"
"Pikiranku saat itu mungkin tidak dewasa. Aku berpikir, biarkan engkau berprasangka negatif padaku agar engkau bisa lebih cepat melupakanku."
Uci mengangguk dan berpamitan pergi.
"Ini sudah cukup. Aku harus pergi."
Uci sempat menengok ke belakang dan bilang,
"Jangan mengakali kepergianmu. Karena kalau sudah ingin pergi, maka pergi saja tanpa harus menengok masa itu lagi."
"Tapi keputusanku pergi juga karena aku sayang kamu." Jawab Leo.
"Salam buat mama." Jawab Uci, singkat, kemudian pergi.
Memang Uci sudah sangat dekat dengan Mama Leo, bahkan Mama Leo pernah datang ke pernikahan abangnya Uci sembari meminta maaf atas keputusan anaknya. Sang ibu menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa ikut campur.
**
Uci pun pergi dengan air mata yang semakin deras. Pun Leo yang tak tahan dengan air matanya. Ia pun meneteskannya ketika wanita itu pergi.
"Padahal usiamu sudah mau kepala tiga, dan kau masih juga belum menikah. Seandainya aku dulu tidak memutuskan pergi, mungkin aku punya kesempatan untuk menikahimu. Tapi aku cukup tahu diri, namaku sudah tercoreng di depan keluarga besarmu."
Leo pun pulang, dengan rasa sedih yang mendalam. Tapi setidaknya, ada beban yang sudah dilepaskan, ia sudah memberi penjelasan. Dan itu cukup membuatnya untuk tenang melangkah dan melanjutkan hidup tanpa wanita yang sebenarnya masih sangat dicintainya itu.
Uci terus menangis. Hingga kemudian ia memutuskan untuk berhenti di sebuah kursi di tengah pepohonan yang sejuk.
"Seandainya kamu tahu Leo, betapa untuk move on dari kamu butuh waktu bertahun-tahun. Bahkan, meski rasa itu saat ini masih condong padamu, aku tidak bisa memperjuangkannya. Keluargaku pun akan sulit memberikan restunya padamu."
Uci terus menangis. Ia berharap hari ini adalah tangisan terakhirnya untuk lelaki itu. Meski ia pun menyesalkan, mengapa setelah tujuh tahun lamanya laki-laki itu baru memberi penjelasan.
Setelah puas dengan tangisnya, Uci menelpon Reva, sang sahabat. Uci pun tersadarkan dengan nasihat sahabatnya.
"Ci, bohong kalau syarat menikah itu satu-satunya karena cinta. Seperti kau dengan Leo, aku tahu kalian masih saling cinta, tapi kesempatan menuju pernikahan sudah tertutup, sangat sangat rapat. Ci, menikahlah, tapi bukan dengannya, bahkan bukan cuma kamu yang dibikin dia sedih, tapi seluruh keluarga besarmu. Itu jahat banget tahu Ci, mereka juga pasti gak akan ridha kamu balik lagi ke dia."
"Mungkin ini adalah ujian Ci. Di saat laki-laki yang mau serius datang ke rumahmu, terus tergoyahkan dengan seseorang yang datang dari masa lalu."
"Ci, meski dia udah ngasih kamu penjelasan, tapi dia tidak bisa membayar rasa sakitmu selama bertahun-tahun. Seandainya dia dulu tidak ingin pergi, seharusnya dia berusaha untuk tidak pergi kan. Sudahlah, jangan dibuat bimbang dengan yang sudah memutuskan pergi. Mending fokus aja sama laki-laki yang serius sama kamu, yang udah dateng ke orang tua kamu."
Ya, Reva benar, lirih Uci dalam hati. Dear masa lalu, jangan mengakali kepergianmu, batinnya.
Uci termenung, bahwa tak selamanya cinta menjadi barometer untuk ke jenjang pernikahan. Karena seandainya ia memilih cinta, ia akan memilih masa lalu yang sudah pernah melukainya.
Tidak, saat ini aku harus melihat cinta untuk bahtera rumah tangga yang panjang. Mungkin seiring waktu, cintaku pada suamiku kelak akan lebih besar, bahkan dapat menghapus perasaanku yang sukar terhapus ini, lirih Uci memantapkan hati.
Aku memilihmu, masa depanku...
***

