![]() |
| Ilustrasi (Foto: shutterstock) |
By: Syafnis
Rintik hujan terus membasahi perjalanan kami. Ayah yang sedari tadi terus mengungkapkan maksudnya dengan panjang lebar.
Mengapa beliau harus sepanjang itu jika aku sudah mengerti sedari tadi, bahwa ayah bunda pada intinya sudah tidak sanggup membiayai kuliahku di kota ini lagi.
Ayah sampai datang jauh-jauh ke kota ini, hanya untuk menyampaikan itu. Kondisi keuangan ayah dan bunda pasti sedang gawat darurat.
Ayah tidak menghempaskan harapan kuliahku begitu saja. Beliau memberi opsi, aku bisa tinggal di rumah saudaranya, tapi cukup jauh jarak dari rumah itu menuju kampus. Atau, aku pindah kuliah ke kampung halaman kami dan mungkin sembari bantu-bantu mengajar di lembaga terdekat.
Dan lagi-lagi aku terdiam, mungkin ayah mengerti, tugasku saat ini hanya menyimak. Untuk keputusanku, mungkin bisa nanti, ketika semester dua perkuliahanku selesai.
Padahal sesungguhnya, aku sedang menahan sesak, namun aku coba menahannya, sekuat tenaga.
Apa yang membuatku sesak itu mungkin juga karena hal lain, saat aku harus mengingat perjuanganku untuk bisa kuliah di sini. Namun benarkah aku harus mengakhiri perjuanganku? Mungkin maksud ayah, aku hanya harus pindah lokasi saja.
Ah, aku begitu kalut, pikiranku serasa disambar petir siang hari yang membuatku tak bisa menjawab apapun pada ayah.
Ayah pulang, beliau pamit. Beliau tadi sudah membawaku pergi ke rumah saudaranya yang ternyata amat sangat jauh.
Aku berpikir sejenak, jika aku harus tinggal di sini, apakah ini jalan terakhir? Ayah pun mengantarku pulang ke asrama tempat aku tinggal. Namun beliau hanya mengantarku sampai depan kampus saja, sedangkan asrama tempat aku tinggal masih harus berjalan lagi.
Lamunanku kembali terbangun. Ayah sudah pergi, langkahnya sudah tak terlihat lagi. Aku yang sedari tadi menahan sesak, perlahan ada sesuatu yang membasahi pipiku.
Segera aku berlari, sebelum tangisan ini semakin deras. Ya Allah, mengapa aku tak bisa menahan tangisan ini, padahal tadi, di hadapan ayah, aku bisa menahannya.
Alangkah malunya aku, setibanya di asrama, ustadz di asramaku sedang terduduk. Aku, aku tidak bisa menutupi wajah bersimbah air ini, sepertinya beliau mengerti, hingga mempersilakanku pergi.
Aku terus berlari, menyusuri tangga. Aku menutupi wajah pada setiap orang yang tak sengaja berpapasan. Kamarku ada di lantai tiga. Aku terus berlari, menahan sesak yang memenuhi rongga dada.
Setibanya aku di kamar, tangisanku meledak. Bagaimana tidak meledak, aku menahannya cukup lama. Sejak kejadian tadi bersama ayah.
Sontak teman-teman sekamarku kebingungan, aku tak jua menjawab, aku sibuk dengan pikiran dalam tangisanku.
Maafkan aku teman, aku tidak bisa berbagi kebingungan yang aku sendiri tidak tahu apa yang bisa ku bagi. Maaf, karena kalian harus mendengar tangisan tak tertahankan ini.
**
Ku pandangi lekat-lekat asrama ini. Untuk setahun ini aku bersyukur bisa menikmati perkuliahan sembari mengikuti belajar malam dan shubuh di asrama ini.
Biayanya terjangkau, fasilitasnya lengkap, namun sayang, di sini hanya bisa ditinggali satu tahun saja. Karena hanya diperuntukan untuk mahasiswa baru.
Ku hela nafas panjang. Ku pandangi teman-temanku. Setiap kamar berjumlah dua belas orang, aku sungguh beruntung dipertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka.
Ada yang sedang nyetrika baju, ada yang sedang belajar, ada yang sedang telponan, ada yang sedang senam, ada yang sedang lari-lari, semua ada! Dan ini, yang di dekatku, mereka sedang berbincang mencari kosan.
Ah, lagi-lagi aku teringat kata-kata Ayah. Ayah mungkin masih sanggup membiayai kuliah, tapi yang membuat ayah merasa berat adalah tempat aku tinggal.
Di asrama ini, walau hanya satu tahun, tapi sangat ringan, sampai-sampai berulang kali rasa terimakasih orang tuaku terucap pada saudaraku, putri dari pamanku. Dialah yang menjadi penunjuk tempat yang ekonomis ini.
Di kota ini, biaya kosan sangat menyesakan untuk ukuran ekonomi orang tuaku. Dan aku, pikiranku amat sangat gelap kala itu. Entah bagaimana kelanjutan langkahku.
Aku pasrah ya Allah, ku serahkan semuanya padaMu. Namun aku berpikir, aku tidak boleh sia-sia tinggal di sini.
Akan ku tunjukan pada orang tuaku, bahwa aku bisa membuat mereka bangga.
Dalam sebuah kertas rahasia, ku tulis dua impian. Nomor satu, aku menulis aku harus menjadi mahasantri mumtaz. Jadi, di asrama ini, menurut informasi Musyrifah, peringkat tertinggi adalah mereka yang masuk lima besar.
Meski terdengar tidak mungkin, tapi aku dengan tangan gemetar menulis mimpi ini. Ayah, Bunda, anakmu ini akan berjuang.
Aku menyadari ketidakmungkinan ini. Asrama ini berbasis bahasa Arab dan Inggris, masuk ke sini pun harus melalui tes. Aku pun bernostalgia saat-saat aku mendaftar di sini.
"Gimana de, tesnya?" tanya saudara yang mengantarku ke sini.
"Kak, bahasa Inggrisnya serasa panas dingin." Jawabku pasrah.
Untuk bahasa arab, setidaknya aku punya bekal pesantren. Tapi bahasa Inggris?
Aku sampai teringat, ketika itu dosen bahasa Inggris di asrama ini menyuruh menceritakan kembali ceritanya.
Aku kebingungan, dosen itu bercerita tanpa ada translate sama sekali.
Satu persatu teman kelasku maju, mereka fasih dan pandai sekali, tak seperti aku yang kadang ketika ada suasana tertawa pun aku hanya ikut-ikutan dan bukan bermodalkan faham, sungguh inilah tertawa paling miris yang pernah ku rasakan.
"Naila, welcome please!"
Giliran aku yang dipanggil dosen itu.
Percaya diri Nai, kamu harus percaya diri, bisikku.
Ku awali dengan sapa yang semangat hingga membangunkan teman-temanku yang mengantuk.
Ku hela nafas dan ku lanjutkan:
"I'm sorry I just understand donuts, sate, than's for your attention. Wassalamu'alikum warahmatullah wabarakatuh."
Gemuruh tepuk tangan dan tawa memenuhi suasana kelasku. Aku bahagia mereka bisa tertawa lepas, pun dosen pun turut terhibur. Syukurlah dosen itu tidak marah dan malah bilang very good.
Padahal, ini sungguh karena aku tidak mengerti. Yang aku dengar dari cerita tersebut hanya makanan yang aku fahami.
Akupun tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Mungkin di bahasa Inggris aku tidak berdaya, tapi aku akan berusaha sebisaku, dan akan ku maksimalkan belajar bahasa arab dan turatsku, tekadku dalam hati.
Jadi, memang di asrama ini ada tiga pembelajaran: bahasa Arab, bahasa Inggris, dan turats atau semacam kitab kuning.
Kemudian, ku tatap kertasku kembali, harap-harap ragu saat hendak menuliskan impian no. 2. Dengan sangat berat ku tulis perlahan: menjadi musyrifah.
Untuk impian kedua ini adalah yang paling tidak mungkin lagi. Tapi aku harus punya mimpi, untuk bisa ku tunjukkan pada orang tuaku, bahwa aku sungguh-sungguh kuliah dan sembari belajar di asrama ini.
Tapi, apakah mungkin? Padahal aku mungkin sudah tercoreng buruk di mata para Musyrifah.
Masih teringat betul di benakku, saat aku dan seorang temanku sedang membeli galon. Di Asrama ini, galonnya dibeli ke kamar musyrifah.
Saking lamanya tidak ada yang kunjung melayani kami, akupun blak blakan kesal pada temanku.
"Nid, ini musyrifah pada kenapa sih, suka lama banget keluarnya! Mana kita nunggunya lama!"
Naila...! Terdengar suara Musyrifah dari dalam. Rupanya suara lengkinganku terdengar hingga ke kamar mereka.
Sontak aku kaget, sedangkan temanku sepertinya hanya menahan tawa. Aku dibuat gugup saat Musyrifah keluar, aku sungguh dibuat gugup, dan sejak saat itu aku menjadi trending topic di kalangan mereka karena kejadian itu.
Bukan hanya itu hal memalukan yang pernah terjadi. Aku pernah dikerjain teman kamar mewakili kamar untuk mengikuti kontes bernyanyi Arab. Sesungguhnya aku untuk ikutan pun sedikitpun tidak mau, tapi apalah dayaku, dari pada harus membayar denda karena tidak ada perwakilan kamar.
Ketika itu, para Musyrifah lah yang menjadi dewan juri. Dekorasi laba-laba yang indah dan kreatif saat itu, harus musnah. Bagaimana tidak? Saat namaku dipanggil, belum sempat aku bernyanyi, aku sudah membuat kekacauan.
Kakiku terpeleset pada tali dekorasi laba-laba yang didesain saat itu, aku terjatuh tidak sengaja, dan seketika dekorannya pun runtuh.
"Bagaimana ini dewan juri, apakah ini bisa menjadi pertimbangan?" Tanya mc dengan tawa gelinya.
Aku benar-benar menanggung malu, mungkin lain kali aku bisa mengenang hal lainnya lagi di asrama ini.
Kemudian aku membayangkan satu persatu wajah musyrifah, hampir didominasi mereka yang jago bahasa Arab dan Inggris. Di atas ketidakmungkinan ini, aku hanya bisa bertawakal.
Ku pandangi secarik kertas tadi. Azzamku membulat. Kertas itu ku peluk, sembari terpejam aku berdoa begitu rapuh.
Ya Allah, jika dengan mencapai keduanya adalah hal yang tidak mungkin, bantulah aku ya Allah untuk bisa mencapai salah satunya.
Aku ingin menunjukan pada orangtuaku, meski fokusku adalah kuliah, tapi belajar di asrama ini pun aku tidak main-main. Aku ingin mereka tidak merasa sia-sia telah membiayaiku di sini.
**
"Tapi Bunda," keluhku merasa tidak mungkin.
"Ikut aja dulu, kalau rezeki Alhamdulillah, nggak pun gak apa-apa." Jawab Bunda sembari mengakhiri telpon.
Singkat cerita, aku bercerita pada bunda mengenai adanya open recruitment Musyrifah. Untuk mengurangi keraguanku, aku meminta pendapat Bunda, dan itulah jawabannya.
Dengan modal bismillah dan dinahkodai doa bunda, aku mengikuti seleksi itu. Bisa dikatakan bak iseng-iseng berhadiah, karena begitu sulit ku cerna seandainya aku bisa terpilih.
Apalagi sainganku yang ikut adalah orang-orang hebat semua. Mereka orang-orang terdepan dan berbakat.
Suatu hari ketika pengumuman tiba, panitia bilang, ada tiga orang yang terpilih.
Pertama, ah bukan namaku. Kedua, masih bukan namaku. Ketiga, apa aku tidak salah dengar? Itu kan namaku.
Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Di balik banjir rasa syukurku, banjir pula sikap keheranan untukku.
Mereka bilang, padahal banyak yang lebih berbakat dariku. Aku pun tak mengerti jika harus menjawab apa rahasiaku bisa terpilih.
Aku hanyalah mahasantri biasa yang berusaha menaati peraturan di asrama ini dengan sebaik-baiknya, apakah itu yang mereka lihat?
Ah entahlah, terpilihnya aku sampai saat ini seolah-olah aku sedang berada di alam mimpi.
Ku sampaikan kabar gembira ini pada Bunda, aku bisa merasakan raut bahagia meski hanya lewat telpon saja.
Itu artinya, aku tidak usah bingung lagi memikirkan tempat tinggal. Padahal saat itu aku merasa sangat gelap, terima kasih ya Allah atas cahayaMu.
**
Waktu wisuda asrama pun tiba. Aku tidak pernah terpikir namaku akan disebut sehingga ketika pengumuman pun aku terkesan tidak terlalu berharap.
Ya Allah, speaker itu membuat jantungku berdetak cepat, betapa terkejutnya aku saat namaku dipanggil di peringkat tiga mumtaz.
Aku menelan ludah, teringat secarik kertas mimpi yang pernah ku tulis. Semua itu begitu mudah bagiMu, meski mustahil untukku.
Padahal aku hanya minta salah satu, tapi Kau berikan dua-duanya. Maha baik Engkau ya Allah. Ku lihat sisi kanan-kiriku, mereka adalah peraih mumtaz lima besar, dan aku menjadi bagian dari mereka?
Lihatlah aku saat ini yang begitu tersanjung. Kami berlima tengah dipayungi bak tuan putri, berjalan menuju panggung impian, betapa gemetar langkah kakiku.
Ku perhatikan dari jauh senyuman mereka. Ayah, Bunda, terimakasih atas doamu, semoga ini menjadi jawaban, bahwa ada Allah yang maha kuasa terhadap kesempitan hidup kita. Semoga kalian bahagia dengan pencapaianku ini.
Dalam pejaman mata ini, ku ucapkan syukur tak terhingga. Tak tanggung-tanggung Kau beri semua mimpi yang ku tulis dengan gemetar.
Alhamdulillah bini'matihi tatimmush-shalihat..

