Type Here to Get Search Results !

Kenali Efek Bikin Nagih pada Makanan Tidak Sehat

Shopiah Syafaatunnisa 0

 

Efek bikin nagih pada makanan tidak sehat
Ilustrasi (Foto: Pexels) 

Syafnis.Com, Banyak orang merasa sulit berhenti mengonsumsi makanan tertentu, meskipun sadar makanan tersebut tidak baik bagi kesehatan. Bukan karena kurang niat, tetapi karena tubuh dan otak sudah terbiasa menerima rangsangan tertentu dari makanan itu. Efek ini sering terjadi tanpa disadari dan berlangsung perlahan.

Makanan tidak sehat umumnya dirancang untuk memberikan rasa yang sangat kuat, cepat memuaskan, dan mudah diingat oleh otak. Inilah yang membuat seseorang ingin mengulanginya lagi dan lagi.

Ada efek bikin nagih tanpa disadari

Istilah ilmiah untuk efek bikin nagih pada makanan disebut addictive-like eating atau food addiction–like behavior. Dalam literatur gizi dan neurosains, makanan tertentu juga disebut hyperpalatable foods, yaitu makanan dengan kombinasi gula, lemak, dan garam yang dirancang sangat merangsang otak.

Secara biologis, efek nagih ini berkaitan dengan sistem reward otak, terutama neurotransmitter dopamin. Dopamin bukan hormon bahagia, tetapi hormon motivasi dan pengulangan perilaku. Saat seseorang makan makanan ultra proses, gula tinggi, atau tepung olahan, dopamin dilepaskan dalam jumlah besar dan cepat. Otak lalu merekam makanan itu sebagai sesuatu yang perlu diulang.

Efek nagih pada makanan tidak sehat sering kali tidak terasa seperti kecanduan yang ekstrem. Tidak ada gejala putus zat yang jelas, tetapi muncul dorongan halus untuk terus mengonsumsinya. Dorongan ini sering disalahartikan sebagai lapar atau sekadar keinginan ngemil.

Efek nagih pada makanan tidak sehat sering kali terjadi secara halus. Tidak ada gejala ekstrem, tetapi muncul keinginan kuat untuk mengulang konsumsi makanan yang sama. Dalam istilah ilmiah, ini disebut food addiction–like behavior, yaitu pola makan yang dikendalikan oleh respons otak, bukan kebutuhan tubuh.

Otak merekam makanan tertentu sebagai sumber kenyamanan. Setiap kali makanan itu dikonsumsi, dopamin dilepaskan dan memberi rasa senang sesaat. Lama-kelamaan, otak mulai meminta ulang sensasi tersebut, meskipun tubuh sebenarnya tidak lapar.

Karena proses ini terjadi perlahan, banyak orang tidak menyadari bahwa dorongan makan berasal dari respons otak, bukan dari kebutuhan nutrisi.

Komposisi ini bikin nagih dalam makanan ultra proses

Makanan ultra proses dikenal sebagai hyperpalatable foods, yaitu makanan yang dirancang sangat lezat karena kombinasi gula, lemak, dan garam dalam proporsi tertentu. Kombinasi ini dirancang untuk memicu pusat kesenangan di otak secara cepat dan kuat.

Gula tambahan sering tidak ditulis sebagai gula secara langsung. Di kemasan, ia muncul dengan nama seperti sukrosa, glukosa, fruktosa, sirup glukosa, sirup fruktosa, sirup jagung, maltodekstrin, atau dekstrosa. Meski namanya berbeda-beda, fungsinya sama, memberi rasa manis cepat dan memicu keinginan makan ulang.

Karbohidrat olahan biasanya ditulis sebagai tepung terigu, pati termodifikasi, pati jagung, atau modified starch. Bahan ini banyak ditemukan pada biskuit, mie instan, roti putih, dan camilan kemasan karena memberi tekstur ringan dan mudah dikunyah.

Lemak olahan dan minyak rafinasi sering ditulis sebagai minyak nabati, minyak sawit, lemak nabati, atau shortening. Bahan ini membuat makanan terasa gurih, renyah, dan tahan lama di lidah, sehingga sulit berhenti mengunyah.

Penguat rasa dan perisa biasanya muncul dengan istilah seperti perisa identik alami, perisa buatan, flavor enhancer, atau penambah cita rasa. Dalam produk gurih, sering disertai kode seperti MSG, mononatrium glutamat, E621, disodium inosinat, atau disodium guanilat.

Bahan tambahan lain yang mendukung tekstur dan sensasi makan antara lain pengemulsi, penstabil, dan pengental. Istilah yang sering muncul misalnya lesitin, emulsifier, stabilizer, atau thickener. Bahan ini membuat makanan terasa lembut, creamy, atau meleleh di mulut.

Saat makanan ini dikonsumsi, dopamin dilepaskan lebih cepat dan lebih tinggi dibanding makanan alami. Efeknya membuat makanan terasa sangat memuaskan, meskipun nilai gizinya rendah.

Saat makanan tersebut masuk ke tubuh, otak melepaskan zat kimia yang menimbulkan rasa senang sesaat. Efek ini membuat tubuh ingin mengulang pengalaman yang sama. 

Jika dikonsumsi terus-menerus, otak mengalami penurunan sensitivitas. Dalam istilah ilmiah, kondisi ini disebut toleransi, yaitu ketika seseorang membutuhkan porsi lebih besar untuk merasakan kepuasan yang sama.

Dalam jangka panjang, sensitivitas otak terhadap rasa alami menurun. Makanan sederhana terasa hambar, sementara makanan ultra proses terasa lebih menarik. Inilah awal dari ketergantungan rasa yang sering tidak disadari.

Efek bikin nagih pada makanan berbahan terigu

Makanan berbahan terigu olahan memiliki indeks glikemik tinggi, artinya cepat diubah menjadi gula dalam darah. Proses ini memicu lonjakan energi yang cepat, lalu turun drastis. Kondisi ini dikenal sebagai rapid glycemic response.

Saat energi turun, tubuh mengirim sinyal lapar, padahal sebenarnya tubuh belum membutuhkan nutrisi baru. Otak kemudian mendorong keinginan makan ulang, terutama makanan yang sama.

Inilah yang membuat roti putih, mie instan, dan camilan tepung terasa sulit dihentikan. Rasa kenyang tidak bertahan lama, dan pola makan berulang pun terbentuk.

Lonjakan dan penurunan energi ini membuat tubuh merasa ingin mengisi ulang dengan makanan serupa. Akibatnya, muncul pola makan berulang tanpa rasa kenyang yang bertahan lama.

Selain itu, tekstur lembut dan rasa netral terigu membuatnya mudah dipadukan dengan gula dan lemak. Kombinasi ini semakin memperkuat efek nagih dan membuat konsumsi berlebihan terasa wajar.

Efek bikin nagih pada gula

Gula memiliki kemampuan kuat dalam merangsang pusat kesenangan otak. Saat dikonsumsi, gula memicu pelepasan zat kimia yang memberikan rasa senang dan nyaman dalam waktu singkat.

Masalahnya, efek ini cepat hilang. Ketika kadar gula darah turun, tubuh kembali mencari asupan manis untuk mengulang rasa nyaman tersebut. Siklus ini dapat terjadi berkali-kali dalam sehari.

Seiring waktu, kebutuhan akan rasa manis meningkat. Porsi kecil tidak lagi memuaskan, sehingga konsumsi gula pun bertambah tanpa disadari. Inilah yang membuat banyak orang sulit lepas dari makanan dan minuman manis.

Gula adalah salah satu pemicu dopamin paling kuat dalam makanan. Setiap konsumsi gula memicu lonjakan dopamin yang memberi rasa senang dan nyaman. Dalam dunia ilmiah, ini dikenal sebagai dopamine spike.

Masalah muncul ketika lonjakan ini diikuti penurunan cepat, atau dopamine crash. Saat kadar dopamin turun, muncul keinginan untuk mengonsumsi gula lagi agar rasa nyaman kembali.

Jika pola ini terjadi terus-menerus, kebutuhan akan rasa manis meningkat. Porsi kecil tidak lagi memuaskan, sehingga konsumsi gula cenderung bertambah tanpa disadari.

Otak Kita Mudah Terbiasa dengan Rasa yang Kuat

Otak memiliki sifat adaptif. Ketika sering menerima rangsangan rasa yang kuat, otak akan menganggapnya sebagai standar baru. Akibatnya, untuk mendapatkan rasa puas yang sama, dibutuhkan rasa yang semakin kuat atau porsi yang lebih banyak.

Inilah yang membuat makanan ultra proses terasa sulit ditinggalkan. Setiap kali dikonsumsi, otak mengingat sensasi nyaman tersebut dan mendorong kita untuk mengulanginya.

Namun kabar baiknya, adaptasi ini bisa dibalik. Dengan mengurangi paparan rasa yang terlalu kuat dan memberi waktu bagi tubuh, otak dapat kembali peka terhadap rasa alami. Pada titik ini, makan tidak lagi sekadar mengejar sensasi, tetapi kembali menjadi kebutuhan yang menyehatkan.

Kenapa Camilan Lebih Menggoda daripada Makan Sehat

Camilan dirancang untuk langsung menarik perhatian dan memberi kepuasan cepat. Ukurannya kecil, rasanya kuat, dan mudah dikonsumsi tanpa persiapan. Ini membuat otak menganggap camilan sebagai sumber kenyamanan instan.

Sebaliknya, makanan sehat sering membutuhkan waktu makan yang lebih lama dan tidak memberi sensasi rasa yang meledak-ledak. Padahal, kepuasan dari makanan sehat bersifat lebih stabil dan bertahan lama, hanya saja tidak terasa secepat camilan.

Otak cenderung memilih yang cepat dan mudah, terutama saat lelah atau stres. Inilah sebabnya camilan sering terasa lebih menggoda, meskipun tubuh sebenarnya lebih membutuhkan makanan bergizi.

Kenapa Makanan Alami Terasa Hambar Setelah Sering Jajan

Ketika seseorang terbiasa mengonsumsi makanan dengan rasa sangat manis, asin, atau gurih, lidah dan otak ikut menyesuaikan diri. Rasa alami dari makanan seperti sayur, buah, atau makanan rumahan perlahan terasa kurang menarik karena tidak memberi rangsangan sekuat makanan kemasan atau jajanan.

Ini bukan karena makanan alami benar-benar hambar, melainkan karena ambang rasa kita sudah bergeser. Otak terbiasa menerima rangsangan rasa yang tinggi, sehingga rasa yang lebih lembut tidak lagi memicu respons puas seperti sebelumnya.

Proses ini bisa dipulihkan, tetapi butuh waktu. Ketika konsumsi jajanan dikurangi dan tubuh kembali dikenalkan pada rasa alami, sensitivitas lidah akan perlahan kembali. Makanan sederhana pun akan terasa lebih nikmat dan memuaskan.

Efek jangka panjang makanan tidak sehat yang jarang disadari

Efek nagih makanan tidak sehat tidak langsung terasa karena tubuh memiliki kemampuan beradaptasi. Dalam jangka panjang, sistem reward otak menjadi kurang sensitif terhadap rasa alami makanan.

Akibatnya, makanan sederhana terasa kurang memuaskan, sementara makanan ultra proses terasa lebih menarik. 

Efeknya memang tidak instan, tetapi nyata ketika konsumsi dilakukan secara rutin dalam waktu lama. 

Efek nagih makanan tidak sehat tidak langsung terlihat dalam hitungan hari atau minggu. Dampaknya baru terasa setelah konsumsi rutin dalam jangka waktu lama, ketika tubuh mulai kehilangan sensitivitas terhadap sinyal alami lapar dan kenyang.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi metabolisme, kestabilan energi, dan kesehatan mental. Tubuh lebih mudah lelah, mood tidak stabil, dan keinginan makan sulit dikendalikan.

Yang sering luput disadari adalah bahwa perubahan ini terjadi perlahan. Tidak terasa sebagai masalah besar di awal, tetapi menjadi nyata ketika pola makan sudah terbentuk dan sulit diubah. Kesadaran inilah langkah awal untuk kembali memilih makanan yang lebih alami dan selaras dengan kebutuhan tubuh. Semoga bermanfaat! 

Tags

Posting Komentar

0 Komentar