![]() |
| Ilustrasi (Foto: Pixabay) |
Syafnis.Com, Otot psoas sering disebut sebagai otot jiwa karena perannya yang unik, bukan hanya dalam pergerakan tubuh tetapi juga dalam respons emosional.
Otot ini terletak cukup dalam, menghubungkan tulang belakang bagian bawah dengan paha. Setiap kali kamu berjalan, duduk, atau mengangkat kaki, psoas ikut bekerja. Namun yang sering tidak disadari adalah bagaimana otot ini merespons situasi stres, baik fisik maupun emosional.
Ketika tubuh mengalami stres, sistem saraf secara otomatis memicu reaksi fight-or-flight. Dalam kondisi ini, psoas menegang karena tubuh bersiap menghadapi ancaman.
Menariknya, psoas tidak bisa membedakan antara ancaman nyata dan stres emosional seperti tekanan pekerjaan, kecemasan, atau kurang tidur.
Jika sinyal stres berlangsung terus-menerus, psoas dapat berada dalam kondisi tegang berkepanjangan. Inilah yang akhirnya memunculkan rasa tidak nyaman di area pinggang, panggul, bahkan pencernaan.
Ketegangan psoas yang menumpuk dapat memengaruhi postur tubuh. Banyak orang tiba-tiba merasa punggung bawahnya mudah pegal atau pinggul terasa kaku, padahal penyebab utamanya adalah psoas yang terlalu bekerja.
Otot ini menarik tulang belakang ke depan ketika menegang, sehingga kurva pinggang menjadi lebih melengkung dan rasa nyeri semakin terasa. Semakin tegang psoas, semakin mudah tubuh masuk ke pola postur defensif, yang secara psikologis dapat memperkuat perasaan cemas atau tertekan.
Psoas juga memiliki hubungan dekat dengan diafragma, otot utama untuk bernapas. Jika diafragma ikut tegang karena stres, napas menjadi pendek dan dangkal. Hal ini membuat psoas ikut kehilangan ruang geraknya.
Ketika napas tidak mengalir dengan baik, tubuh semakin sulit melepaskan ketegangan. Siklus ini membuat stres lebih mudah menumpuk dan lebih sulit diurai. Inilah alasan mengapa beberapa latihan pernapasan dapat memberikan efek relaksasi yang sangat cepat pada psoas dan sistem saraf.
Banyak ahli gerak dan terapis tubuh percaya bahwa emosi tertentu dapat tersimpan di area psoas. Meski penjelasan ilmiahnya belum sepenuhnya disepakati, banyak orang merasakan pelepasan emosional ketika melakukan peregangan psoas yang dalam.
Pengalaman ini dapat terjadi karena saat psoas rileks, tubuh keluar dari mode siaga dan kembali ke kondisi tenang. Sistem saraf parasimpatik menjadi aktif, sehingga kamu merasa lebih stabil, lebih ringan, dan lebih hadir dalam tubuh sendiri.
Merawat psoas bukan hanya soal latihan fisik. Tidur cukup, mengatur napas secara sadar, mengurangi duduk berkepanjangan, dan memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak bebas membantu psoas tetap lentur.
Ketika psoas berada dalam kondisi yang sehat, tubuh dapat bereaksi terhadap stres dengan lebih wajar. Kamu pun lebih mudah tetap tenang meski berada dalam tekanan.
Hubungan antara otot psoas dan stres menunjukkan bahwa tubuh dan pikiran benar-benar saling terhubung. Dengan memahami dan merawat psoas, kamu bukan hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga mendukung keseimbangan emosional. Semoga bermanfaat!

