![]() |
| Ilustasi (Foto: pexels) |
Aku takut salah dengar. Tapi suara itu makin lama
makin terdengar. Isak tangis itu, semakin jelas di telingaku. Suara tangis itu
begitu mengiris hatiku. Aku seolah terbawa suasana dengan suara itu. Dengan
begitu pelan aku berusaha mencari sumber dari suara itu. Gelap sekali selama ku
berjalan, karena hari sudah sangat malam. Tapi aku mencoba memberanikan diri
demi menghampiri suara itu.
Semilir angin dengan sejuknya membelaiku, ditambah
lagi suasana pesisir pantai yang sangat indah, deburan ombak yang bergemuruh,
begitu eksotis mengiringi perjalanan langkah ini. Tetapi, keindahan itu seakan
tak lagi menjadi pusat perhatianku. Karena saat ini yang aku fokuskan adalah
mencari suara isakan tangis yang aku dengar sedari tadi. Membuat hatiku semakin
penasaran untuk terus mencari.
Dari kejauhan barulah aku melihat seseorang nampak
sedang menangis bersedih. Dengan suasana gelap, aku tidak begitu jelas melihatnya.
Akupun mendekati orang itu, ku kira dia lebih muda dariku. Dia seperti anak lelaki
kecil yang masih tingkat sekolah dasar. Saat aku menyentuh pundaknya, dia
terperanjat. Wajahnya dipenuhi linangan airmata. Begitu jelas aku melihat
sosoknya. Dia berkulit sangat hitam. Awalnya aku terkejut, tapi aku harus bisa
menjaga perasaannya, jangan sampai ia tersinggung karena sikapku. Aku berusaha
mengendalikan diri dan bertanya:
“Kamu kenapa?”
Dia hanya terdiam. Suasana begitu senyap. Akupun
mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Namamu siapa? Perkenalkan, namaku Abdilah.” Ucapku
seraya mencoba menjabat tangannya.
“Namaku Oji.” Ia mulai menjawab. Aku baru sadar
kalau ternyata dia itu buta. Ku lihat tangannya terus menerus menggerak-gerakan
tongkatnya karena mencari arah.
“Kau sendirian?”
Ia hanya mengangguk,
“Keluargamu mana?”
Lagi-lagi dia tak menjawab. Matanya mulai
berkaca-kaca. Hanya, dia tak mengeluarkan suara tangisnya. Sepertinya, dia malu
dengan kedatanganku.
“Kau tak usah sungkan denganku. Sepertinya kita bisa
berteman baik. Usiamu berapa tahun?”
“Usiaku tigabelas tahun.”
“Dua tahun lebih muda dariku. Kau bisa anggap aku
kakakmu!”
Dia mulai menghapus airmatanya.
“Atas maksud apa kau kemari? Kau kan tak mengenalku,
begitupun aku.” Katanya.
“Lah, memangnya salah? Lagipula, apa salahnya kita
berteman?”
Dan dia sekali lagi tak menjawabnya. Suasana menjadi
sangat sepi. Hanya deburan ombak yang setia menemani obrolan kami. Akupun
kembali bertanya:
“Kau serius sendirian? Lalu kau bersama siapa di
tempat ini?”
“Aku tak punya siapa-siapa. Aku yatim piatu.”
Jawabnya dengan tertegun.
“Maaf, aku tidak bermaksud,”
“Tidak apa-apa.” Katanya memotong pembicaraanku.
“Abdilah…. Abdilah..!”
“Abdilah… Dimana kau Nak?”
Terdengar suara orang-orang memanggil namaku.
“Sepertinya keluargamu sedang mencarimu. Kenapa kau
tidak menyahut mereka?” Tanya Oji.
“Ah sudahlah. Biarkan saja! Aku sedang kesal sama
mereka!”
“Memangnya ada masalah apa kamu dengan keluargamu?.”
“Lah, memangnya kenapa? Wajar kan aku kesal dengan
keluargaku!”
“Seharusnya kau bersyukur, masih ditakdirkan memiliki
keluarga yang utuh. Bukankah Nabi tercinta kita pernah mengatakan, bahwa lihat
lah kepada orang yang lebih rendah darimu supaya kamu tidak meremehkan nikmat
Allah. Lihat aku, aku hidup sendiri, pekerjaanku sehari-hari hanya sebagai
penyapu jalanan. Tak ada satupun keluargaku yang masih hidup yang menemani aku.
Kalau boleh tahu, kamu ada masalah apa dengan keluargamu?”
“Tadi, aku bertengkar dengan adikku. Aku sedang
enak-enaknya baca buku meneladani sosok Muhammad, eh, adeku malah merebutnya.
Kamipun rebutan, hingga akhirnya orangtuaku memarahiku, selalu saja aku yang
mengalah, aku kesal, lagi-lagi yang dimarahi itu aku, bukan ade aku, aku kabur dan sekarang sepertinya mereka
sedang mencariku..”
Oji tertawa kecil, sepertinya dia terhibur dengan
ceritaku. Dia hanya menjawab singkat:
“Buku yang kau baca itu seharusnya bisa
direalisasikan olehmu. Jika benar kau meneladani Muhammad kau mungkin tak akan
seperti itu!”
Sindirannya begitu pedas. Apa yang dikatakannya itu benar.
Aku hanya tersipu malu dan malah mengalihkan pembicaraan:
“Oiya Oji, memangnya, keluargamu kemana?”
“Apakah aku harus menceritakannya?”
“Kenapa tidak?” jawab Abdilah.
“Baiklah.” Setelah perlahan menghirup nafasnya
dalam-dalam, ia pun memulai cerita kelamnya:
“Aku dan keluargaku tinggal di Ambon. Apakah kau
pernah mendengar cerita tragedi ambon dahulu? Ketika seluruh umat islam ambon
dibantai oleh umat kristiani?”
Aku hanya menggelengkan kepala. Tetapi aku semakin
tertarik mendengarnya, akupun mendengarkan cerita Oji dengan sangat antusias.
“Keluargaku
adalah satu dari sekian banyak korban di Maluku. Aku masih ingat betul ketika
orang-orang tak berprikemanusiaan itu menyiksa keluargaku dengan sangat sadis
dan kejam. Ketika leher pamanku mereka tebas dengan pedang, ketika sebuah golok
menusuk perut ibuku, ketika pistol menembak kepala keponakanku, ketika puluhan
peluru memanah tubuh kakakku, nenekku, kakekku, dan menyiksa seluruh anggota
keluargaku. Aku betul-betul histeris.
Usiaku yang masih kecil, membuatku hanya bisa menangis histeris saat itu.
Darah segar berceceran di mana-mana. Seluruh tubuhku terasa teriris, demi islam, ya, demi islam. Aku
tidak paham betul percakapan mereka, yang aku paham, keluargaku rela
mengorbankan apapun demi mempertahankan keyakinannya terhadap islam.”
“Saat aku
menangis, tiba-tiba aku merasa ada yang membopong aku. Aku melihat jelas bahwa
itu adalah bopoku. Ketika itu aku sangat senang karena bopoku baik-baik saja.
Entah mau dibawa kemana aku olehnya, yang jelas dia ingin aku selamat.”
“Di tengah
perjalanan, bopoku berpapasan dengan paman, adik dari bopo aku sendiri. Aku
tidak mengerti apa yang sesungguhnya saat itu terjadi. Yang jelas, bopoku
bilang, bahwa pamanku pengkhianat dan munafik. Akupun merasa membenarkannya
karena paman memakai baju tentara yang sama dengan orang-orang yang telah
menyiksa keluarga besarku. Apakah mungkin pamanku masuk ke dalam barisan
mereka? Aku tidak mengerti. Yang jelas akhirnya bopo melakukan perlawanan.
Paman dan bopo pun akhirnya saling menyerang dengan menggunakan masing-masing
pedangnya. Aku disimpan bopo di tempat yang sepi. Aku sendiri tidak mengerti
kenapa di tempat itu sangat sepi, tak ada siapapun kecuali kami bertiga. Hingga
pada puncaknya, bopoku terjatuh dan kalah. Pistol pamanku yang hendak menembak
bopoku aku haling-halangi hingga akhirnya kedua mataku lah yang menjadi korban.
Aku menjerit kesakitan. Bopoku yang begitu sangat menyayangi aku begitu
terkejut, hingga iapun membangkitkan kembali seluruh kekuatannya. Entah bopo
mendapat kekuatan dari mana hingga berhasil membuat pamanku terpingkal dan tak
bernyawa lagi. Bopoku menghampiriku dengan penuh menahan kesakitan. Ia melepas
bajunya yang dipenuhi darah. Baju itu bopo gunakan untuk sedikit meredakan luka
di kedua mataku. Tetapi aku malah semakin kesakitan dan dengan cengengnya
berteriak: Bopo kenapa gelap bopo..”
“Di kedua
telingaku masih terdengar betul tangisan bopoku. Baru pertamakali aku mendengar
bopo menangis. Dia terus menerus meminta maaf karena telah membuat mataku
menjadi korban. Tiba-tiba aku mendengar percakapan bopo dengan seorang wanita
tua. Intinya, bopo menitipkan aku kepadanya. Dan setelah itu aku tidak ingat
apa-apa lagi.”
“Saat aku
terbangun, aku merasa tidak bangun. Hanya gelap, hanya gelap. Tiba-tiba ada
seseorang mendekapku. Aku merasa orang ini adalah yang bercakap-cakap dengan
bopoku. Ia menjelaskan bahwa aku, aku buta..”
“Buta Bi? Lalu
kemana sekarang bopoku?” tanyaku dengan penuh khawatir.
“Beliau meninggal
dunia..”
Dan akupun
menangis untuk ke sekian kalinya.
“Kau tenang, aku
yang akan merawatmu. Aku diamanahi bopoku untuk merawatmu, membimbingmu, dan
mengajarimu banyak ilmu.”
“Namanya Bi Minah. Dan sekarang beliau sudah
meninggal dua tahun yang lalu. Selama dua tahun lamanya pula aku belajar banyak
hal, belajar hidup sendiri, belajar hidup sebatangkara. Kau seharusnya
bersyukur Abdilah, kau harus bersyukur tidak separah hidupku! Dan dari kejadian
keluargaku, mereka memberiku pesan mendalam. Itu artinya, keistiqomahan
merekapun adalah juga sebagai pesan mereka untukku”
“Itu, baju apa?” tanyaku, penasaran, sembari
menunjuk baju. Karena dari tadi ia mendekap baju itu.
“Ini adalah baju bopoku. Aku masih menyimpannya.”
Ku perhatikan baju itu, dan ternyata sangat banyak
dipenuhi darah bekas, usang sekali.
“Kau tidak mencucinya?”
“Hanya ini satu-satunya kenang-kenangan dari
Bopoku.”
Aku sungguh kasihan padanya, aku sangat terharu. Aku
melihat airmatanya menetes ke baju lusuh itu. Dia begitu tegar, ku lihat dia
menghapus airmatanya, dan diapun mengalihkan pembicaraan:
“Tadi kau bilang, kau sedang baca buku yang berjudul
apa tadi?” Tanya Oji.
“Oh.. Meneladani sosok Muhammad. Emang kenapa?”
“Kau pikir aku bodoh ya? Haha. Meskipun aku tidak
sekolah, tapi Bi Minah selalu memberi aku ilmu dan nasehat-nasehat berharga.
Termasuk mengajari aku tentang sejarah dan kisah sosok nabi Muhamamd yang luar
biasa mulia itu!”
Dia menyimpan tongkatnya, dan melanjutkan:
“Kau pasti heran mengapa aku bisa percaya diri
ngobrol denganmu. Padahal kan aku berkulit hitam, buta, tapi Bi Minah selalu
bilang bahwa dalam AlQuran juga dikatakan, inna akromakum `indalloohi atqookum”
Oji pun melanjutkan:
“Dan meskipun banyak sekali orang-orang menghinaku,
jangankan aku orang yang biasa-biasa, orang yang sangat sangat mulia seperti
Rosululloh saja sangat sering dihina, tetapi beliau tak pernah membalasnya,
malah beliau tetap berbuat baik kepada orang-orang yang pernah menghinanya.”
Beberapa saat kemudian Oji melanjutkan:
“Di dunia ini, umat manusia tak akan tersesat, jika
yang menjadi idola dan teladannya adalah memang pantas menjadi teladan. Dan
satu-satunya sosok teladan sempurna umat ini adalah Rosululloh, tak ada yang
lebih mulia darinya..”
“Aku begini tidak bermaksud ingin dipuji. Aku di
sini hanya berbagi, termasuk mengingatkanmu tentang pentingnya arti sebuah
keluarga. Jangan kau sia-siakan mereka, teman! Kau tidak sepertiku, yang sudah
kehilangan mereka! Sebelum kau kehilangan mereka, sayangilah keluargamu itu!”
katanya sembari menepuk pundakku.
“Sosok Muhammad mengajari kita untuk menebar rahmat
di seluruh semesta, tidak untuk orang lain semata, melainkan juga saling
menyayangi kepada keluarga kita yang tercinta. Apakah dalam buku yang kau baca
juga diajarkan seperti itu bukan?”
Aku dibuat tak berkata-kata olehnya. Aku sangat
kagum kepadanya. Cara berpikirnya yang dewasa mengalahkan usianya yang muda
belia.
Dia mencari-cari tongkat dan akupun dengan senang
hati membantunya. Kamipun tersadar dengan teriakan-teriakan:
“Abdilah… dimana kamu Nak?”
“Abdilah… Abdilah…!”
Oji mengangkat tongkatnya dan berdiri. Ia berusaha
mencari-cari tubuhku, dan diapun berhasil memegang bahuku.
“Temui keluargamu dan meminta maaflah. Aku, yang
hidupnya seperti ini saja, aku malah menikmatinya. Meski begini aku tetap
bahagia. Sekali lagi ingin sekali aku ungkapkan padamu, bahwa jika kita tidak
salah teladan, maka hidupmu pasti akan terarah. Jangan jauh-jauh. Teladani saja
Rosululloh tercinta kita, niscaya hidupmu pasti akan bahagia. Pesan ini adalah
pesan moral yang mulai banyak dilupakan anak muda sekarang dan semua orang.”
“Terimakasih atas nasihatmu. Dari sekian banyak
ceritamu, teman, aku bisa menyimpulkan. Bahwa kau, kau adalah mutiara, kau bisa
menjadi inspirasi untuk siapapun…” kataku tertegun, tetapi dia sepertinya tidak
terlalu memperhatikanku dan malah hendak berlalu:
“Assalaamu`alaikum, aku harus pergi, senang bertemu
denganmu…” iapun pergi dengan tongkatnya seraya mendekap baju lusuh itu. Dan
meskipun ia buta, sepertinya dia sudah menguasai jalan itu meski nuansa gelap.
“Wa`alaikumussalaam…” jawabku hingga tak mengedipkan
mataku saking kagumnya.
Dalam hati aku berkata sembari menatap kepergiannya:
“Dikau benar-benar mutiara. Meskipun kulitmu hitam,
tapi kau adalah mutiara hitam…”
Aku terus tenggelam dalam lamunan rasa syukurku, aku
bersyukur karena aku bisa dipertemukan dengan sesosok Oji. Aku sungguh
mengagumi ketegarannya menjalani hidup. Mendengar ceritanya, seharusnya aku
bersyukur. Oji benar. Aku harus bersyukur.
“Abdilah anakku… Kau kemana saja Nak?” Aku yang
sedari tadi berdiri mematung, baru tersadar kalau ternyata ibuku ada di dekatku.
Lalu tiba-tiba datang pula ayah, dan ketiga saudaraku. Mereka meminta maaf,
tetapi dengan tegas aku menjawab:
“Aku tidak apa-apa. Dan aku yang sebetulnya ingin
meminta maaf.”
Keluargaku terkejut: “Tadi kami mengecewakanmu nak,
jadi kami”
“Syuuut… Abdilah benar-benar ingin meminta maaf sama
ayah, ibu, kakak, dan juga ade…” potong aku.
“Bu, ayah, aku tadi terlalu egois. Aku selalu
mementingkan diri sendiri. Maafkan aku Ayah, Ibu.” Aku dengan penuh rasa
bersalah lantas saja memeluk mereka dengan penuh rasa maaf yang
sedalam-dalamnya.
Seakan-akan keluargaku tak menyangka dengan
perubahanku. Mereka semua mendekapku, mereka sepertinya terharu. Karena yang
mereka tahu, aku yang tadinya seorang egoisme yang ulung, tetapi berubah seketika
menjadi perendah hati yang disanjung…
***
Itu adalah peristiwa aku lima tahun yang lalu di
pantai kenangan ini. Sekarang, aku injakkan lagi kakiku di pantai ini kembali. Dengan
suasana pantai yang berbeda, usia yang berbeda, dan meskipun dengan cuaca malam
yang sama, namun pantai ini benar-benar dipenuhi dengan kenangan yang membekas.
Kenangan saat aku bertemu dengan kawan tak terlupakan, si mutiara hitam.
Aku mencoba menghampiri tempat saat dimana aku
bercaka-cakap dengan Oji, seorang kawan terkenang yang saat ini keberadaannyapun
aku tak tahu entah dimana. Meski pertemuan itu sesaat, tetapi sungguh, aku
sangat merindukannya. Pertemuan yang sungguh tak terlupakan.
Mutiara hitam, ya, aku lebih suka memanggilnya
dengan mutiara hitam. Kawan yang sangat luar biasa ini, betul-betul menyadarkan
aku banyak hal. Nasihatnya yang paling aku ingat sampai sekarang, adalah kita tidak boleh salah teladan. Teladani
saja Rosululloh, niscaya kita akan bahagia. Kau benar, Oji. Mau seperti apapun
hidup kita, jika kita tidak salah teladan, maka hidup kita akan terarah. Kian
hari tantangan zaman ini semakin berduri. Kau benar, nasihat tentang meneladani
sosok Rosululloh, kini sudah banyak dilupakan para penerus, mereka lebih
terobsesi dengan idola-idola mereka yang tidak jelas. Mereka tertipu dengan
idola-idola yang bisa merusak. Astaghfirullooh.. dan Rosululloh shalalllaahu
`alaihi wasallam yang seharusnya menjadi teladan paling perfek hanya tinggal omongan
belaka. Situasi zaman yang sungguh memprihatinkan!”
Sekilas akupun kembali teringat Oji:
“Aku benar-benar merindukanmu Oji. Oji, dimanakah
dirimu kini? Bahkan buku yang ku ceritakan padamu pun sekarang sedang aku
genggam Oji. Apakah kau ingin membacanya? Atau hanya sekedar mendengarkan apa
yang ku ceritakan tentang buku bagus ini?”
Sia-sia saja. Teriakan akupun tak akan bisa membuat
Oji kembali.
“Oji, dimanapun kau berada, semoga Allah selalu
menjaga dan menyayangimu, selamanya..”
Seraya mengambil segenggam pasir, aku hanya bisa
tersenyum manis. Kejadian lima tahun silam itu hanya tinggal kenangan. Kisah
keluarganya yang aku masih ingat sangat menyedihkan, begitu sangat
menginspirasi. Dia begitu tegar, aku sangat merindukannya. Dia, sesosok kawan yang
luar biasa, yang pernah aku kenal seumur hidupku. Aku hanya bisa mengambil
nafas dalam-dalam, dalam keadaan mata terpejam, betapa daku sangat merindukannya,
oh tuhan, di kesaksian malam, di hadapan ombak yang saling berdeburan, dan di
balik pantai yang menyimpan sebait rindu
kenangan.
Oh…! Dimanakah gerangan, mutiara hitamku tersayang…!

