Type Here to Get Search Results !

Cerpen: Mutiara Hitam Di Pantai Kenangan

Shopiah Syafaatunnisa 0
Orang sendirian di pantai
Ilustasi (Foto: pexels)



Aku takut salah dengar. Tapi suara itu makin lama makin terdengar. Isak tangis itu, semakin jelas di telingaku. Suara tangis itu begitu mengiris hatiku. Aku seolah terbawa suasana dengan suara itu. Dengan begitu pelan aku berusaha mencari sumber dari suara itu. Gelap sekali selama ku berjalan, karena hari sudah sangat malam. Tapi aku mencoba memberanikan diri demi menghampiri suara itu.
Semilir angin dengan sejuknya membelaiku, ditambah lagi suasana pesisir pantai yang sangat indah, deburan ombak yang bergemuruh, begitu eksotis mengiringi perjalanan langkah ini. Tetapi, keindahan itu seakan tak lagi menjadi pusat perhatianku. Karena saat ini yang aku fokuskan adalah mencari suara isakan tangis yang aku dengar sedari tadi. Membuat hatiku semakin penasaran untuk terus mencari.
Dari kejauhan barulah aku melihat seseorang nampak sedang menangis bersedih. Dengan suasana gelap, aku tidak begitu jelas melihatnya. Akupun mendekati orang itu, ku kira dia lebih muda dariku. Dia seperti anak lelaki kecil yang masih tingkat sekolah dasar. Saat aku menyentuh pundaknya, dia terperanjat. Wajahnya dipenuhi linangan airmata. Begitu jelas aku melihat sosoknya. Dia berkulit sangat hitam. Awalnya aku terkejut, tapi aku harus bisa menjaga perasaannya, jangan sampai ia tersinggung karena sikapku. Aku berusaha mengendalikan diri dan bertanya:
“Kamu kenapa?”
Dia hanya terdiam. Suasana begitu senyap. Akupun mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Namamu siapa? Perkenalkan, namaku Abdilah.” Ucapku seraya mencoba menjabat tangannya.
“Namaku Oji.” Ia mulai menjawab. Aku baru sadar kalau ternyata dia itu buta. Ku lihat tangannya terus menerus menggerak-gerakan tongkatnya karena mencari arah.
“Kau sendirian?”
Ia hanya mengangguk,
“Keluargamu mana?”
Lagi-lagi dia tak menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca. Hanya, dia tak mengeluarkan suara tangisnya. Sepertinya, dia malu dengan kedatanganku.
“Kau tak usah sungkan denganku. Sepertinya kita bisa berteman baik. Usiamu berapa tahun?”
“Usiaku tigabelas tahun.”
“Dua tahun lebih muda dariku. Kau bisa anggap aku kakakmu!”
Dia mulai menghapus airmatanya.
“Atas maksud apa kau kemari? Kau kan tak mengenalku, begitupun aku.” Katanya.
“Lah, memangnya salah? Lagipula, apa salahnya kita berteman?”
Dan dia sekali lagi tak menjawabnya. Suasana menjadi sangat sepi. Hanya deburan ombak yang setia menemani obrolan kami. Akupun kembali bertanya:
“Kau serius sendirian? Lalu kau bersama siapa di tempat ini?”
“Aku tak punya siapa-siapa. Aku yatim piatu.” Jawabnya dengan tertegun.
“Maaf, aku tidak bermaksud,”
“Tidak apa-apa.” Katanya memotong pembicaraanku.
“Abdilah…. Abdilah..!”
“Abdilah… Dimana kau Nak?”
Terdengar suara orang-orang memanggil namaku.
“Sepertinya keluargamu sedang mencarimu. Kenapa kau tidak menyahut mereka?” Tanya Oji.
“Ah sudahlah. Biarkan saja! Aku sedang kesal sama mereka!”
“Memangnya ada masalah apa kamu dengan keluargamu?.”
“Lah, memangnya kenapa? Wajar kan aku kesal dengan keluargaku!”
“Seharusnya kau bersyukur, masih ditakdirkan memiliki keluarga yang utuh. Bukankah Nabi tercinta kita pernah mengatakan, bahwa lihat lah kepada orang yang lebih rendah darimu supaya kamu tidak meremehkan nikmat Allah. Lihat aku, aku hidup sendiri, pekerjaanku sehari-hari hanya sebagai penyapu jalanan. Tak ada satupun keluargaku yang masih hidup yang menemani aku. Kalau boleh tahu, kamu ada masalah apa dengan keluargamu?”
“Tadi, aku bertengkar dengan adikku. Aku sedang enak-enaknya baca buku meneladani sosok Muhammad, eh, adeku malah merebutnya. Kamipun rebutan, hingga akhirnya orangtuaku memarahiku, selalu saja aku yang mengalah, aku kesal, lagi-lagi yang dimarahi itu aku, bukan ade aku,  aku kabur dan sekarang sepertinya mereka sedang mencariku..”
Oji tertawa kecil, sepertinya dia terhibur dengan ceritaku. Dia hanya menjawab singkat:
“Buku yang kau baca itu seharusnya bisa direalisasikan olehmu. Jika benar kau meneladani Muhammad kau mungkin tak akan seperti itu!”
Sindirannya begitu pedas. Apa yang dikatakannya itu benar. Aku hanya tersipu malu dan malah mengalihkan pembicaraan:
“Oiya Oji, memangnya, keluargamu kemana?”
“Apakah aku harus menceritakannya?”
“Kenapa tidak?” jawab Abdilah.
“Baiklah.” Setelah perlahan menghirup nafasnya dalam-dalam, ia pun memulai cerita kelamnya:
“Aku dan keluargaku tinggal di Ambon. Apakah kau pernah mendengar cerita tragedi ambon dahulu? Ketika seluruh umat islam ambon dibantai oleh umat kristiani?”
Aku hanya menggelengkan kepala. Tetapi aku semakin tertarik mendengarnya, akupun mendengarkan cerita Oji dengan sangat antusias.
Keluargaku adalah satu dari sekian banyak korban di Maluku. Aku masih ingat betul ketika orang-orang tak berprikemanusiaan itu menyiksa keluargaku dengan sangat sadis dan kejam. Ketika leher pamanku mereka tebas dengan pedang, ketika sebuah golok menusuk perut ibuku, ketika pistol menembak kepala keponakanku, ketika puluhan peluru memanah tubuh kakakku, nenekku, kakekku, dan menyiksa seluruh anggota keluargaku. Aku betul-betul histeris.  Usiaku yang masih kecil, membuatku hanya bisa menangis histeris saat itu. Darah segar berceceran di mana-mana. Seluruh tubuhku terasa  teriris, demi islam, ya, demi islam. Aku tidak paham betul percakapan mereka, yang aku paham, keluargaku rela mengorbankan apapun demi mempertahankan keyakinannya terhadap islam.
“Saat aku menangis, tiba-tiba aku merasa ada yang membopong aku. Aku melihat jelas bahwa itu adalah bopoku. Ketika itu aku sangat senang karena bopoku baik-baik saja. Entah mau dibawa kemana aku olehnya, yang jelas dia ingin aku selamat.”
“Di tengah perjalanan, bopoku berpapasan dengan paman, adik dari bopo aku sendiri. Aku tidak mengerti apa yang sesungguhnya saat itu terjadi. Yang jelas, bopoku bilang, bahwa pamanku pengkhianat dan munafik. Akupun merasa membenarkannya karena paman memakai baju tentara yang sama dengan orang-orang yang telah menyiksa keluarga besarku. Apakah mungkin pamanku masuk ke dalam barisan mereka? Aku tidak mengerti. Yang jelas akhirnya bopo melakukan perlawanan. Paman dan bopo pun akhirnya saling menyerang dengan menggunakan masing-masing pedangnya. Aku disimpan bopo di tempat yang sepi. Aku sendiri tidak mengerti kenapa di tempat itu sangat sepi, tak ada siapapun kecuali kami bertiga. Hingga pada puncaknya, bopoku terjatuh dan kalah. Pistol pamanku yang hendak menembak bopoku aku haling-halangi hingga akhirnya kedua mataku lah yang menjadi korban. Aku menjerit kesakitan. Bopoku yang begitu sangat menyayangi aku begitu terkejut, hingga iapun membangkitkan kembali seluruh kekuatannya. Entah bopo mendapat kekuatan dari mana hingga berhasil membuat pamanku terpingkal dan tak bernyawa lagi. Bopoku menghampiriku dengan penuh menahan kesakitan. Ia melepas bajunya yang dipenuhi darah. Baju itu bopo gunakan untuk sedikit meredakan luka di kedua mataku. Tetapi aku malah semakin kesakitan dan dengan cengengnya berteriak: Bopo kenapa gelap bopo..”
“Di kedua telingaku masih terdengar betul tangisan bopoku. Baru pertamakali aku mendengar bopo menangis. Dia terus menerus meminta maaf karena telah membuat mataku menjadi korban. Tiba-tiba aku mendengar percakapan bopo dengan seorang wanita tua. Intinya, bopo menitipkan aku kepadanya. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.”
“Saat aku terbangun, aku merasa tidak bangun. Hanya gelap, hanya gelap. Tiba-tiba ada seseorang mendekapku. Aku merasa orang ini adalah yang bercakap-cakap dengan bopoku. Ia menjelaskan bahwa aku, aku buta..”
“Buta Bi? Lalu kemana sekarang bopoku?” tanyaku dengan penuh khawatir.
“Beliau meninggal dunia..”
Dan akupun menangis untuk ke sekian kalinya.
“Kau tenang, aku yang akan merawatmu. Aku diamanahi bopoku untuk merawatmu, membimbingmu, dan mengajarimu banyak ilmu.”
“Namanya Bi Minah. Dan sekarang beliau sudah meninggal dua tahun yang lalu. Selama dua tahun lamanya pula aku belajar banyak hal, belajar hidup sendiri, belajar hidup sebatangkara. Kau seharusnya bersyukur Abdilah, kau harus bersyukur tidak separah hidupku! Dan dari kejadian keluargaku, mereka memberiku pesan mendalam. Itu artinya, keistiqomahan merekapun adalah juga sebagai pesan mereka untukku”
“Itu, baju apa?” tanyaku, penasaran, sembari menunjuk baju. Karena dari tadi ia mendekap baju itu.
“Ini adalah baju bopoku. Aku masih menyimpannya.”
Ku perhatikan baju itu, dan ternyata sangat banyak dipenuhi darah bekas, usang sekali.
“Kau tidak mencucinya?”
“Hanya ini satu-satunya kenang-kenangan dari Bopoku.”
Aku sungguh kasihan padanya, aku sangat terharu. Aku melihat airmatanya menetes ke baju lusuh itu. Dia begitu tegar, ku lihat dia menghapus airmatanya, dan diapun mengalihkan pembicaraan:
“Tadi kau bilang, kau sedang baca buku yang berjudul apa tadi?” Tanya Oji.
“Oh.. Meneladani sosok Muhammad. Emang kenapa?”
“Kau pikir aku bodoh ya? Haha. Meskipun aku tidak sekolah, tapi Bi Minah selalu memberi aku ilmu dan nasehat-nasehat berharga. Termasuk mengajari aku tentang sejarah dan kisah sosok nabi Muhamamd yang luar biasa mulia itu!”
Dia menyimpan tongkatnya, dan melanjutkan:
“Kau pasti heran mengapa aku bisa percaya diri ngobrol denganmu. Padahal kan aku berkulit hitam, buta, tapi Bi Minah selalu bilang bahwa dalam AlQuran juga dikatakan, inna akromakum `indalloohi atqookum”
Oji pun melanjutkan:
“Dan meskipun banyak sekali orang-orang menghinaku, jangankan aku orang yang biasa-biasa, orang yang sangat sangat mulia seperti Rosululloh saja sangat sering dihina, tetapi beliau tak pernah membalasnya, malah beliau tetap berbuat baik kepada orang-orang yang pernah menghinanya.”
Beberapa saat kemudian Oji melanjutkan:
“Di dunia ini, umat manusia tak akan tersesat, jika yang menjadi idola dan teladannya adalah memang pantas menjadi teladan. Dan satu-satunya sosok teladan sempurna umat ini adalah Rosululloh, tak ada yang lebih mulia darinya..”
“Aku begini tidak bermaksud ingin dipuji. Aku di sini hanya berbagi, termasuk mengingatkanmu tentang pentingnya arti sebuah keluarga. Jangan kau sia-siakan mereka, teman! Kau tidak sepertiku, yang sudah kehilangan mereka! Sebelum kau kehilangan mereka, sayangilah keluargamu itu!” katanya sembari menepuk pundakku.
“Sosok Muhammad mengajari kita untuk menebar rahmat di seluruh semesta, tidak untuk orang lain semata, melainkan juga saling menyayangi kepada keluarga kita yang tercinta. Apakah dalam buku yang kau baca juga diajarkan seperti itu bukan?”
Aku dibuat tak berkata-kata olehnya. Aku sangat kagum kepadanya. Cara berpikirnya yang dewasa mengalahkan usianya yang muda belia.
Dia mencari-cari tongkat dan akupun dengan senang hati membantunya. Kamipun tersadar dengan teriakan-teriakan:
“Abdilah… dimana kamu Nak?”
“Abdilah… Abdilah…!”
Oji mengangkat tongkatnya dan berdiri. Ia berusaha mencari-cari tubuhku, dan diapun berhasil memegang bahuku.
“Temui keluargamu dan meminta maaflah. Aku, yang hidupnya seperti ini saja, aku malah menikmatinya. Meski begini aku tetap bahagia. Sekali lagi ingin sekali aku ungkapkan padamu, bahwa jika kita tidak salah teladan, maka hidupmu pasti akan terarah. Jangan jauh-jauh. Teladani saja Rosululloh tercinta kita, niscaya hidupmu pasti akan bahagia. Pesan ini adalah pesan moral yang mulai banyak dilupakan anak muda sekarang dan semua orang.”
“Terimakasih atas nasihatmu. Dari sekian banyak ceritamu, teman, aku bisa menyimpulkan. Bahwa kau, kau adalah mutiara, kau bisa menjadi inspirasi untuk siapapun…” kataku tertegun, tetapi dia sepertinya tidak terlalu memperhatikanku dan malah hendak berlalu:
“Assalaamu`alaikum, aku harus pergi, senang bertemu denganmu…” iapun pergi dengan tongkatnya seraya mendekap baju lusuh itu. Dan meskipun ia buta, sepertinya dia sudah menguasai jalan itu meski nuansa gelap.
“Wa`alaikumussalaam…” jawabku hingga tak mengedipkan mataku saking kagumnya.
Dalam hati aku berkata sembari menatap kepergiannya:
“Dikau benar-benar mutiara. Meskipun kulitmu hitam, tapi kau adalah mutiara hitam…”
Aku terus tenggelam dalam lamunan rasa syukurku, aku bersyukur karena aku bisa dipertemukan dengan sesosok Oji. Aku sungguh mengagumi ketegarannya menjalani hidup. Mendengar ceritanya, seharusnya aku bersyukur. Oji benar. Aku harus bersyukur.
“Abdilah anakku… Kau kemana saja Nak?” Aku yang sedari tadi berdiri mematung, baru tersadar kalau ternyata ibuku ada di dekatku. Lalu tiba-tiba datang pula ayah, dan ketiga saudaraku. Mereka meminta maaf, tetapi dengan    tegas aku menjawab:
“Aku tidak apa-apa. Dan aku yang sebetulnya ingin meminta maaf.”
Keluargaku terkejut: “Tadi kami mengecewakanmu nak, jadi kami”
“Syuuut… Abdilah benar-benar ingin meminta maaf sama ayah, ibu, kakak, dan juga ade…” potong aku.
“Bu, ayah, aku tadi terlalu egois. Aku selalu mementingkan diri sendiri. Maafkan aku Ayah, Ibu.” Aku dengan penuh rasa bersalah lantas saja memeluk mereka dengan penuh rasa maaf yang sedalam-dalamnya.
Seakan-akan keluargaku tak menyangka dengan perubahanku. Mereka semua mendekapku, mereka sepertinya terharu. Karena yang mereka tahu, aku yang tadinya seorang egoisme yang ulung, tetapi berubah seketika menjadi perendah hati yang disanjung…
***

Itu adalah peristiwa aku lima tahun yang lalu di pantai kenangan ini. Sekarang, aku injakkan lagi kakiku di pantai ini kembali. Dengan suasana pantai yang berbeda, usia yang berbeda, dan meskipun dengan cuaca malam yang sama, namun pantai ini benar-benar dipenuhi dengan kenangan yang membekas. Kenangan saat aku bertemu dengan kawan tak terlupakan, si mutiara hitam.
Aku mencoba menghampiri tempat saat dimana aku bercaka-cakap dengan Oji, seorang kawan terkenang yang saat ini keberadaannyapun aku tak tahu entah dimana. Meski pertemuan itu sesaat, tetapi sungguh, aku sangat merindukannya. Pertemuan yang sungguh tak terlupakan.
Mutiara hitam, ya, aku lebih suka memanggilnya dengan mutiara hitam. Kawan yang sangat luar biasa ini, betul-betul menyadarkan aku banyak hal. Nasihatnya yang paling aku ingat sampai sekarang, adalah kita tidak boleh salah teladan. Teladani saja Rosululloh, niscaya kita akan bahagia. Kau benar, Oji. Mau seperti apapun hidup kita, jika kita tidak salah teladan, maka hidup kita akan terarah. Kian hari tantangan zaman ini semakin berduri. Kau benar, nasihat tentang meneladani sosok Rosululloh, kini sudah banyak dilupakan para penerus, mereka lebih terobsesi dengan idola-idola mereka yang tidak jelas. Mereka tertipu dengan idola-idola yang bisa merusak. Astaghfirullooh.. dan Rosululloh shalalllaahu `alaihi wasallam yang seharusnya menjadi teladan paling perfek hanya tinggal omongan belaka. Situasi zaman yang sungguh memprihatinkan!”
Sekilas akupun kembali teringat Oji:
“Aku benar-benar merindukanmu Oji. Oji, dimanakah dirimu kini? Bahkan buku yang ku ceritakan padamu pun sekarang sedang aku genggam Oji. Apakah kau ingin membacanya? Atau hanya sekedar mendengarkan apa yang ku ceritakan tentang buku bagus ini?”
Sia-sia saja. Teriakan akupun tak akan bisa membuat Oji kembali.
“Oji, dimanapun kau berada, semoga Allah selalu menjaga dan menyayangimu, selamanya..”
Seraya mengambil segenggam pasir, aku hanya bisa tersenyum manis. Kejadian lima tahun silam itu hanya tinggal kenangan. Kisah keluarganya yang aku masih ingat sangat menyedihkan, begitu sangat menginspirasi. Dia begitu tegar, aku sangat merindukannya. Dia, sesosok kawan yang luar biasa, yang pernah aku kenal seumur hidupku. Aku hanya bisa mengambil nafas dalam-dalam, dalam keadaan mata terpejam, betapa daku sangat merindukannya, oh tuhan, di kesaksian malam, di hadapan ombak yang saling berdeburan, dan di balik pantai yang menyimpan sebait  rindu kenangan.
Oh…! Dimanakah gerangan, mutiara hitamku tersayang…!


  • Lebih lama

    Cerpen: Mutiara Hitam Di Pantai Kenangan

Posting Komentar

0 Komentar